Menara Jepang & Paviliun Cina: Keunikan Kerajaan yang Terlupakan di Brussel
Dibangun atas perintah Raja Leopold II dan selesai awal 1900-an, Menara Jepang dan Paviliun Cina di Laeken jadi salah satu landmark paling unik di Brussel. Meski tutup sejak 2013 untuk restorasi, bangunannya masih bisa dilihat dari taman sekitar. Ada baiknya mengenal sejarahnya sebelum berkunjung ke area kerajaan Laeken.
Fakta Singkat
- Lokasi
- Avenue Van Praet 44, 1020 Laeken, Brussel
- Cara ke sini
- Trem 3 atau 7 turun di 'Araucaria'; Bus 53 atau 83 turun di 'Pagodes/Pagoden' di Avenue Van Praet
- Waktu yang dibutuhkan
- 20–30 menit (hanya dari luar; bagian dalam ditutup)
- Biaya
- Gratis dilihat dari luar; bagian dalam ditutup dan tidak ada tiket dijual
- Cocok untuk
- Pecinta arsitektur, penggemar sejarah, pejalan kaki taman kerajaan Laeken
- Situs web resmi
- www.kmkg-mrah.be/en/museums-far-east

Apa Sebenarnya yang Kamu Lihat
Menara Jepang dan Paviliun Cina berdampingan di Avenue Van Praet, Laeken, sebuah distrik di utara Brussel yang terkenal sebagai lokasi kediaman utama keluarga kerajaan Belgia. Dari jalan dan taman sekitar, dua bangunan ini langsung mengundang rasa penasaran: sebuah menara pagoda lima lantai dan paviliun bergaya Cina yang penuh ornamen, keduanya menjulang di antara pepohonan taman tanpa tetangga yang senada gaya arsitekturnya. Sekilas, seperti properti teater dari dua benua berbeda yang terselip di satu panggung.
Menara Jepang setinggi hampir 50 meter, dengan atap bertingkat yang mengecil ke atas mengikuti gaya pagoda Jepang, serta ornamen besi tempa dan detail berlapis lak yang bisa dilihat bahkan dari kejauhan. Paviliun Cina lebih rendah dan lebar, fasadnya penuh hiasan bergaya Cina, termasuk keramik berporselen mengkilap, ukiran kayu impor dari Cina dan Jepang, serta susunan atap yang menangkap cahaya berbeda-beda tergantung waktu. Di pagi hari, atap gentengnya memantulkan warna keemasan kehijauan; sore hari, bayangan menonjolkan tekstur ukiran.
⚠️ Yang bisa dilewati
Penting: Menara Jepang dan Paviliun Cina sudah ditutup untuk pengunjung sejak tahun 2013 karena alasan keamanan struktur. Tidak ada akses masuk ke dalam. Kawasan taman di sekitar tetap terbuka dan eksterior bangunan bisa dilihat dari taman serta jalan, tapi jangan berharap bisa masuk. Pastikan statusnya sebelum berkunjung karena jadwal restorasi belum ada kepastian.
Kisah Dibalik Bangunan
Kedua bangunan ini hadir karena Raja Leopold II, raja Belgia yang ambisi arsitekturnya sebanding dengan proyek kolonialnya. Leopold sempat ke Pameran Dunia Paris tahun 1900 dan terpesona dengan paviliun Jepang dan Cina di sana. Ia membawa elemen dari pameran itu dan memerintahkan pembangunan versi permanennya di kawasan kerajaan Laeken. Menara Jepang selesai tahun 1905, Paviliun Cina menyusul dan resmi dibuka tahun 1913.
Sejak awal, kedua bangunan ini bukanlah museum konvensional. Fungsi mereka berubah-ubah: Paviliun Cina sempat memamerkan koleksi porselen dan seni dekoratif dari Cina dan Jepang, sedangkan Menara Jepang lebih menekankan tampilan arsitektur ketimbang koleksi benda museum. Ditambah satu bangunan lagi, Museum Seni Jepang, ketiganya dulu tergabung sebagai Museums of the Far East dan dikelola oleh jaringan Royal Museums of Art and History.
Proyek Raja Leopold II di Laeken lebih dari dua bangunan ini saja. Rumah Kaca Kerajaan Laeken adalah bagian dari kawasan kerajaan yang sama dan menjadi proyek arsitektur berskala besar lainnya, berupa kompleks rumah kaca kaca dan besi yang luas. Rumah kaca ini hanya buka untuk umum beberapa pekan tiap musim semi, jadi termasuk objek wisata paling 'limited time' di Brussel. Kalau sudah ke Menara Jepang dan Paviliun Cina, rumah kaca bisa jadi kunjungan tambahan yang pas.
Penutupan: Kenapa Ditutup dan Dampaknya untuk Pengunjung
Bangunan ini ditutup untuk umum mulai tahun 2013 setelah pemeriksaan struktur menemukan masalah keamanan di keduanya. Lebih dari satu dekade berlalu, hingga kini belum ada kepastian kapan akan dibuka lagi. Ini memang jamak terjadi pada bangunan tua berbahan seperti ini: fasad bernuansa dekoratif, teknik bangunan awal abad 20, ditambah perawatan yang sempat terabaikan — membuat restorasinya sangat menantang.
Bagi kebanyakan pengunjung, penutupan ini mengubah total pengalaman di sini. Tidak ada bagian dalam yang bisa dieksplor, tidak ada koleksi yang bisa dilihat, dan tidak ada tur berpemandu. Yang tersisa hanyalah keunikan arsitektur yang bisa dilihat dari taman atau jalan. Kalau memang tertarik pada koleksi seni dekorasi Asia Timur yang dulu dipamerkan di sini, Museum Seni dan Sejarah di Parc du Cinquantenaire memiliki koleksi serupa dan saat ini terbuka untuk umum.
Kalau Anda berminat dengan koleksi seni Asia dan Afrika Belgia secara umum, AfricaMuseum di Tervuren layak dijangkau sedikit ke arah timur dari Brussel. Museum ini jauh lebih besar, baru selesai renovasi total tahun 2018, dan menjadi contoh restorasi besar museum era kolonial yang bisa dilihat hasilnya.
Menikmati Eksterior: Apa Saja yang Bisa Dilihat dan Kapan
Taman di sekitar Menara Jepang dan Paviliun Cina bisa diakses gratis. Suasananya sangat tenang di pagi hari pada hari kerja, biasanya hanya ada pejalan kaki dengan anjing atau pesepeda yang melintas. Saat akhir pekan sore apalagi kalau cuaca cerah, taman di Laeken makin ramai oleh keluarga dan pengunjung yang ingin menjelajah kawasan kerajaan — tapi tetap jauh lebih rileks ketimbang pusat kota Brussel yang padat wisatawan.
Dari taman, kamu bisa berkeliling mengitari bangunan dan cukup dekat untuk melihat detail arsitektur dari luar. Ukiran kayu dan ornamen keramik Paviliun Cina bisa dilihat tanpa alat bantu. Memotret dari permukaan tanah pun mudah, dan tinggi Menara Jepang membuatnya mudah difoto dengan latar langit dari sudut mana pun. Tidak ada polusi cahaya di sekitar sini, jadi waktu terbaik untuk memotret adalah pagi atau sore saat matahari lebih rendah.
Hari mendung, yang cukup sering di Brussel dengan iklim samudera, justru memberi pencahayaan merata yang baik untuk memotret fasad tanpa bayangan tajam di permukaan ukiran. Hujan bisa turun kapan saja, jadi sebaiknya bawa jas hujan atau payung meski ramalan cuaca cerah. Tidak ada banyak tempat berteduh di sekitar taman.
💡 Tips lokal
Foto eksterior terbaik Menara Jepang diambil dari jarak agak jauh supaya kelima tingkatan menaranya bisa terlihat jelas dengan latar langit. Menjauh sedikit dari pagar akan membuat hasil foto lebih maksimal.
Cara ke Lokasi dan Merangkai Kunjungan di Laeken
Kompleks ini berada di Avenue Van Praet 44, 1020 Laeken. Dengan transportasi umum, naik trem 3 atau 7 turun di halte 'Araucaria', atau bus 53 atau 83 turun di 'Pagodes/Pagoden' di Avenue Van Praet — hanya butuh jalan kaki sebentar masuk gerbang taman. Dari pusat Brussel, waktu tempuh sekitar 20–30 menit tergantung sambungan.
Wilayah Laeken memang pantas dijelajahi lebih dari sekadar satu objek wisata. Lingkungan ini adalah bagian dari distrik Laeken, yang mencakup Istana Kerajaan Laeken (tidak dibuka untuk umum), Rumah Kaca Kerajaan, Atomium, dan Mini-Europe—semuanya bisa dijangkau jalan kaki atau naik transportasi sebentar. Menggabungkan area luar Menara Jepang dan Paviliun Cina dengan Atomium menghasilkan rute setengah hari yang fokus menjelajah sisi utara Brussel.
Atomium berjarak sekitar 15 menit jalan kaki dari lokasi Menara Jepang dan Paviliun Cina dan sepenuhnya buka untuk kunjungan publik. Kalau memang menjadwalkan ke Laeken, menggabungkan dua tempat ini masuk akal—menyeimbangkan tempat yang hanya bisa dilihat dari luar dengan atraksi besar yang bisa dieksplorasi bagian dalamnya.
Konteks Sejarah dan Arsitektur
Keputusan Leopold II membangun kedua bangunan ini merupakan bagian dari tren besar Eropa terhadap estetika Asia yang sedang digandrungi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Japonisme dan chinoiserie ramai di Eropa Barat pada masa itu, dan Pameran Dunia di Paris serta kota lain mengenalkan para bangsawan serta kaum kaya pada bentuk arsitektur Asia Timur—meskipun mayoritas diadaptasi dengan gaya Eropa ketimbang pertukaran budaya asli.
Menara Jepang memang bukan replika pagoda Jepang secara teknis, tapi jelas terinspirasi desain pagoda: bagian atas dari kayu dan atap susun. Beberapa komponennya bahkan diambil langsung dari Pameran Paris 1900. Untuk Paviliun Cina, material kayu dan elemen hiasnya dibuat di Cina lalu dikirim ke Belgia, membuatnya lebih otentik dari sisi bahan meski tetap merupakan interpretasi Eropa terhadap arsitektur Cina, bukan bangunan Cina asli secara formal.
Kalau ingin tahu cara Brussel memperlakukan koleksi seni sejarah dan dekoratif era ini, Museum Seni dan Sejarah di Parc du Cinquantenaire jadi sumber perbandingan yang penting. Koleksi di museum ini cukup banyak irisan tematiknya dengan yang dulunya dipamerkan di Paviliun Cina dan kini masih bisa diakses publik.
Siapa Sebaiknya Berkunjung dan Siapa Tidak
Kalau kamu mengunjungi Brussel dalam waktu singkat dan ingin mengutamakan pengalaman dalam ruang (museum) atau objek wisata besar yang terbuka, Menara Jepang dan Paviliun Cina saat ini bukan prioritas. Karena tutup, yang bisa dinikmati hanya tampilan eksterior, dan perjalanan ke Laeken dari pusat kota butuh pisah waktu khusus 20–30 menit sekali jalan.
Bagi traveler yang memang sudah berniat ke Atomium atau Rumah Kaca Kerajaan Laeken, mampir sejenak ke Menara Jepang & Paviliun Cina layak dilirik, apalagi jika tertarik arsitektur atau sejarah kerajaan awal abad 20. Namun kalau tujuan utama adalah koleksi seni, sebaiknya prioritaskan institusi terbuka seperti Museum Seni Rupa Kerajaan atau Museum Magritte di kawasan Royal Quarter.
Tips Orang Dalam
- Gabungkan kunjungan ke sini dengan Atomium dan Mini-Europe dalam satu perjalanan setengah hari ke arah utara; ketiganya hanya berjarak jalan kaki 15 menit di Laeken, dan Atomium bisa memberikan pengalaman interior yang tak didapat di paviliun yang sedang tutup ini.
- Cek situs Royal Museums of Art and History (kmkg-mrah.be) sebelum datang, karena institusi ini yang mengelola dan biasanya pertama mengabarkan info soal pembukaan kembali.
- Pemandangan terbaik Menara Jepang bisa didapat dari jalur taman yang sejajar dengan Avenue Van Praet; kalau terlalu dekat dengan pagar, justru bagian atas menara tidak terlihat utuh.
- Kalau naik trem, gunakan patokan nama halte 'Pagodes/Pagoden' untuk navigasi: nama itu memang merujuk langsung ke bangunan ini, jadi Anda yakin sudah di lokasi yang benar meski petunjuk setempat minim.
- Taman di sekitar area ini tenang dan cukup rapi. Cocok untuk berhenti sejenak saat jalan-jalan di Laeken, walau bangunan utamanya tidak bisa dimasuki. Bawa air minum karena tidak ada fasilitas di dekat lokasi.
Untuk Siapa Menara Jepang & Paviliun Cina?
- Pecinta arsitektur yang tertarik interpretasi Eropa terhadap desain Asia Timur awal 1900-an
- Traveler yang sudah berencana ke Laeken untuk Atomium, Rumah Kaca Kerajaan, atau kawasan kerajaan
- Peneliti sejarah yang ingin menelusuri proyek-proyek arsitektur Raja Leopold II di Brussel
- Pecinta fotografi yang mencari objek eksterior unik di luar jalur wisata pusat kota
- Pengunjung yang ingin memahami sejarah kerajaan dan kolonial Brussel lebih luas
Atraksi Terdekat
Hal lain yang bisa dilihat di Laeken:
- Design Museum Brussels (ADAM Design Museum)
Design Museum Brussels, hanya beberapa langkah dari Atomium di kawasan Laeken, menyulap benda sehari-hari menjadi karya budaya. Dari furnitur plastik era 50-an sampai mode kontemporer, museum ini mengangkat desain jadi seni serius — dan hampir tak pernah seramai kualitasnya.
- Atomium
Dibangun untuk Expo Dunia 1958, Atomium adalah ikon utama Brussels: struktur baja yang melambangkan sel kristal besi diperbesar 165 miliar kali. Berikut semua info penting agar kunjunganmu maksimal.
- Mini-Europe
Mini-Europe menghadirkan lebih dari 80 landmark terkenal dari seluruh Uni Eropa dalam bentuk mini di satu taman di kawasan Laeken, Brussel. Cocok untuk keluarga dan pecinta sejarah Eropa, tapi jika datang sendirian mungkin sensasinya cepat hilang dibanding harga tiketnya.
- Royal Greenhouses of Laeken
Royal Greenhouses of Laeken merupakan salah satu bangunan kaca dan besi paling luar biasa di Eropa, hanya dibuka untuk umum selama beberapa minggu tiap musim semi. Panduan ini membahas apa yang bisa kamu lihat, cara mendapatkan tiket, dan apakah kunjungannya sesuai ekspektasi.