Pasar Gwangjang: Pasar Tertutup Tertua di Seoul dan Surga Kuliner Legendaris
Didirikan sejak 1905, Pasar Gwangjang di Jongno adalah pasar tertutup paling tua di Seoul yang terus beroperasi. Daya tarik utamanya adalah deretan kios jajanan legendaris—bindaetteok, mayak gimbap, yukhoe—serta lantai kain grosir dan zona pakaian bekas yang seru diburu.
Fakta Singkat
- Lokasi
- 88 Changgyeonggung-ro, Jongno-gu, Seoul 03195
- Cara ke sini
- Subway Line 1, Stasiun Jongno 5-ga, Pintu 8 (jalan kaki sekitar 62m); juga Stasiun Euljiro 4-ga (Line 2 & 5), Pintu 4
- Waktu yang dibutuhkan
- Sekitar 1,5–3 jam tergantung apakah makan, belanja, atau keduanya
- Biaya
- Masuk gratis; makanan rata-rata 3.000–10.000 KRW per porsi
- Cocok untuk
- Jajanan khas Korea, belanja tekstil, budaya pasar lokal
- Situs web resmi
- http://www.kwangjangmarket.co.kr/en

Apa Sebenarnya Pasar Gwangjang Itu
Pasar Gwangjang adalah pasar tertutup paling tua di Seoul, berdiri sejak tahun 1905 pada akhir era Joseon. Terkenal berkat ragam kuliner seperti bindaetteok (pancake kacang hijau), mayak gimbap, dan yukhoe (daging sapi mentah). Saat ini, pasar terdiri dari beberapa zona: lorong makanan di lantai dasar yang selalu dipadati penjual jajanan sejak pagi, lantai kain dan tekstil tempat pedagang menjajakan gulungan sutra, linen, dan kain hanbok baik grosir maupun eceran, serta area pakaian bekas yang jadi sasaran para pemburu vintage juga pedagang lokal.
Gwangjang berlokasi di kawasan bersejarah distrik Jongno, bisa ditempuh berjalan kaki dari Sungai Cheonggyecheon maupun koridor istana utama. Konteks ini penting: tempat ini bukan objek wisata buatan, melainkan pasar tradisional aktif yang tetap menjalankan fungsi utamanya meskipun banyak menarik wisatawan. Sebagian besar kios kain di lantai atas melayani pembeli grosir, penjahit, dan perajin hanbok—not just wisatawan.
ℹ️ Perlu diketahui
Lorong makanan biasanya buka sampai malam dan tetap buka hari Minggu; zona kain dan vintage kebanyakan tutup Minggu. Jam buka bisa berbeda-beda tergantung penjual dan musim—cek kembali saat tiba.
Lorong Makanan: Apa yang Harus Dicoba dan Apa yang Diharapkan
Lorong makanan berada di lantai dasar pasar dan inilah alasan utama kebanyakan pengunjung datang. Aromanya memancing selera bahkan sebelum terlihat: bindaetteok yang digoreng, minyak wijen, dan aroma manis samar dari nasi kukus. Kios-kios berjajar rapi di lorong sempit dengan bangku plastik rendah dan meja bersama—sering kali hanya sejarak beberapa sentimeter dari penggorengan pedagang.
Menu andalan di sini adalah bindaetteok, pancake kacang hijau yang digoreng hingga renyah di luar, padat dan gurih di dalam. Penjual memasak tanpa henti di atas wajan datar besar; silakan lihat sendiri proses memipihkan dan membalik adonannya. Pancake disajikan masih panas dan renyah, biasanya dipotong-potong serta ditemani semangkuk kecil kimchi. Rasanya berat, berminyak, dan benar-benar mengenyangkan—jauh dari kesan makanan kaki lima serba ringan.
Mayak gimbap—nasi gulung mini seukuran ibu jari, disantap dicelup saus mustard kuning—merupakan favorit di Gwangjang. Bersiaplah mengantre di stan terkenal, terutama kalau berkunjung pagi hari kerja atau siang akhir pekan. Yukhoe, daging sapi mentah berbumbu lengkap dengan kuning telur, adalah keistimewaan lain di Gwangjang yang jarang ditemukan di kaki lima Seoul. Bagi yang belum pernah mencoba daging mentah, teksturnya lebih lembut dari tartare dan bumbunya (minyak wijen, kecap asin, bawang putih, pir) cukup kuat sehingga pemula pun nyaman mencoba.
💡 Tips lokal
Datang sebelum jam 11.00 di hari kerja supaya pilihan tempat duduk masih banyak dan antrean masih pendek. Lewat tengah hari, apalagi Sabtu, lorong utama makin padat dan layanan cenderung melambat. Pagi hari kerja adalah waktu paling santai untuk makan.
Lantai Kain: Dunia Pasar yang Sama Sekali Berbeda
Begitu naik ke lantai atas, suasana Gwangjang berubah total. Energi kuliner langsung digantikan atmosfer tenang dan penuh tujuan: deretan pedagang kain dengan gulungan kain yang tinggi menumpuk, mulai dari sutra, brokat, katun, hingga aneka bahan khusus hanbok yang tertata bebas sesuai jenis. Lampunya terang fluoresen, lantainya mengkilap karena aus, percakapan antar pedagang dan pembeli langganan berlangsung cepat dalam bahasa Korea.
Meski tidak niat belanja, lantai kain patut dijelajahi satu-dua putaran. Ragam tekstil di sini luar biasa—sutra bermotif tradisional berjajar dengan bahan sintetis super elastis, benang bordir dijual kiloan, renda dihitung per meter—semuanya menciptakan pemandangan menarik buat pencinta detail visual. Harga diorientasikan untuk grosir, tapi penjual sudah biasa melayani pembeli profesional maupun tamu iseng. Jangan berharap banyak bahasa Inggris, tapi menunjuk barang dan kalkulator hampir selalu efektif.
Kalau kamu tertarik memakai pakaian tradisional Korea, area ini jelas terhubung dengan pengalaman pengalaman hanbok di Seoul di Seoul. Banyak kain untuk hanbok buatan desainer lokal yang bersumber dari Gwangjang.
Bagaimana Pasar Berubah Sepanjang Hari
Pukul 09.00 lorong makanan sudah beroperasi. Pedagang sibuk menggoreng, uap tteokguk mengepul di dekat pintu masuk, dan gelombang awal pembeli—kebanyakan langganan lansia—sudah duduk menikmati kopi dan pancake. Datang di jam segini, suasana kerja harian pasar benar-benar terasa dan jadi pengalaman menarik kalau tak buru-buru.
Sekitar tengah hari, pasar memasuki jam sibuk wisatawan. Mulai pukul 11.30 sampai 14.00 lorong makanan padat, ponsel bertebaran untuk foto, beberapa kios kecil bahkan kadang kehabisan menu andalannya. Di waktu sesak seperti ini, menjelajah lantai kain bisa jadi pelarian yang efektif: lantai atas justru makin lengang saat lantai dasar paling ramai.
Menjelang sore, suasana kembali lebih tenang. Sebagian pedagang makanan mulai menghabiskan stok menjelang tutup pukul 18.00, sehingga pilihan menu berkurang tetapi area makan lebih lega. Zona pakaian bekas (Guie Shopping Street) buka sampai malam dan malah makin ramai anak muda dan pemburu vintage, termasuk reseller yang tekun menyisir rak satu per satu.
Cara Menuju dan Berkeliling Pasar
Akses subway paling gampang adalah Stasiun Jongno 5-ga Line 1, Pintu 8. Pintu utama pasar sangat dekat dengan pintu keluar, jadi ini salah satu rute termudah ke pasar di Seoul. Dari luar, kamu bisa langsung melihat bentuk bangunan atap pasar dan arus pejalan kaki bahkan sebelum membuka peta.
Stasiun Euljiro 4-ga (Line 2 dan 5, Pintu 4) juga bisa jadi alternatif, terutama kalau datang dari pusat kota Seoul.
Pasar Gwangjang sangat cocok dirangkai dalam itinerary kawasan Jongno. Sungai Cheonggyecheon hanya beberapa menit jalan kaki ke selatan—paket pas buat makan di pasar lalu lanjut menyusuri sungai di sore hari. Pasar ini juga strategis untuk pengunjung dari arah Changgyeonggung Palace di sebelah utara.
Fotografi, Aksesibilitas, dan Catatan Praktis
Memotret di lorong makanan sudah biasa dan para pedagang umumnya sudah terbiasa juga. Tapi, membidik wajah orang langsung tanpa izin tetap dianggap kurang sopan. Pencahayaan di area beratap memang kurang bagus untuk foto makanan; cahaya pagi dekat pintu atau area terbuka hasilnya lebih oke. Lantai kain, dengan tumpukan kain dan pola yang repetitif, cenderung selalu menarik difoto kapan saja.
Fasilitas aksesibilitas tercantum sebagai tersedia menurut Visit Seoul. Lantai dasar cukup rata, tapi secara keseluruhan pasar adalah bangunan bertingkat dengan kondisi berbeda-beda di setiap lantai. Wisatawan dengan kebutuhan mobilitas perlu mempertimbangkan lorongnya yang sempit dan kadang padat di jam ramai.
Tiket masuk Pasar Gwangjang gratis. Uang tunai masih sangat berguna untuk belanja di kios makanan dan pedagang kecil, meskipun sebagian penjual kain di lantai atas menerima kartu. Selalu bawa uang won pecahan kecil.
⚠️ Yang bisa dilewati
Lorong makanan di Gwangjang buka hari Minggu, tapi sebagian area kain dan vintage tutup. Selalu cek dulu zona mana yang ingin kamu datangi sebelum berangkat. Kalau itinerary Seoul-mu jatuh di Minggu di Jongno, sebaiknya siapkan pilihan cadangan—Pasar Namdaemun punya jadwal operasional berbeda.
Penilaian Jujur: Apa Gwangjang Itu dan Bukan
Pasar Gwangjang mulai dikenal internasional setelah muncul di serial kuliner Netflix. Imbasnya, lebih banyak pengunjung berdatangan dan beberapa kios mulai menyesuaikan diri, baik dari sisi tampilan ataupun harga. Namun, lantai atas tetap menjalankan fungsi pasar grosir yang otentik. Sementara lorong makanan, khususnya di stan yang sering difoto, sekarang terasa sedikit sadar kamera—bisa jadi kamu melihat pedagang mengangkat papan nama dalam Bahasa Inggris, menu berfoto, dan harga premium di kios yang viral online.
Tapi bukan berarti pasar ini harus dihindari. Hidangan di sini masih enak. Bindaetteok di Gwangjang tetap khas seperti seharusnya. Namun, jika menginginkan pengalaman benar-benar lokal tanpa sentuhan turis, coba saja lewati stan paling populer dan cari yang antreannya didominasi pembeli Korea, bukan wisatawan berponsel. Pasar ini memang memberi banyak pengalaman bagi yang mau sedikit lebih menjelajah.
Untuk gambaran lebih luas tentang pasar tradisional Seoul, juga perbandingan Gwangjang dengan pasar lain, cek panduan kuliner Gwangjang Market dan panduan pasar Seoul untuk pilihan pasar menarik lain di seluruh Seoul.
Tips Orang Dalam
- Stan mayak gimbap terdekat dari pintu utama biasanya punya antrean terpanjang. Masuk saja dua atau tiga lorong lagi ke dalam, biasanya ada stan serupa dengan kualitas sama dan antrean jauh lebih singkat.
- Kalau mau belanja kain, sebaiknya bawa foto contoh kain yang kamu cari. Penjual akan lebih mudah memahami kebutuhanmu jika kamu tunjukkan gambar jenis atau motif kain, meski ada kendala bahasa.
- Bagian pakaian bekas (Guie Shopping Street) seru dikunjungi setelah pukul 19.00 di hari kerja—waktu reseller vintage paling aktif dan rak koleksi biasanya baru diisi kembali.
- Lantai atas pasar punya beberapa kios makan untuk pekerja dan pedagang kain. Di sini hampir tidak ada turis, jarang difoto, harga lebih murah dan porsinya lebih besar daripada deretan makanan di lantai dasar.
- Pagi hari di hari kerja antara pukul 09.00–10.30 adalah waktu saat suasana Pasar Gwangjang masih terasa seperti masa sebelum viral di media internasional. Banyak pedagang senior, langganan lokal, suasananya lebih tenang dan otentik.
Untuk Siapa Pasar Gwangjang?
- Pencinta kuliner yang ingin mencoba makanan kaki lima Korea di tempat aslinya, bukan di food court modern
- Antusias tekstil, desainer, atau siapa saja yang mencari kain Korea berkualitas dengan harga bersaing
- Traveler hemat yang ingin makan kenyang dengan harga murah di tempat bersejarah
- Pemburu pakaian vintage dan bekas yang sabar mengubek-ubek rak tak terorganisir
- Pengunjung pertama Seoul yang merangkai agenda hari di Jongno—mengunjungi istana, jalan-jalan pinggir sungai, lalu makan siang di pasar
Atraksi Terdekat
Hal lain yang bisa dilihat di Jongno & Bukchon:
- Desa Hanok Bukchon
Desa Hanok Bukchon (북촌한옥마을) adalah kawasan permukiman yang terjaga dengan sekitar 860 rumah tradisional hanok di pusat kota Seoul, terletak di antara Istana Gyeongbokgung dan Changdeokgung. Ini bukan museum atau taman hiburan, melainkan lingkungan nyata yang masih dihuni warga — semua aspek kunjungan di sini dipengaruhi oleh kenyataan itu. Masuk gratis, namun beberapa gang dibatasi aksesnya demi kenyamanan penduduk.
- Istana Changdeokgung & Secret Garden
Istana Changdeokgung adalah yang paling terawat di antara lima istana kerajaan era Joseon di Seoul. Taman belakangnya, Huwon, atau Secret Garden, menghadirkan suasana asri dan menenangkan di tengah kota. Kedua lokasi ini menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO dan sangat layak dikunjungi, apalagi jika kamu merencanakan kunjungan dengan matang.
- Istana Changgyeonggung
Salah satu dari lima istana utama era Joseon di Seoul, Istana Changgyeonggung berada di Jongno-gu dan menawarkan suasana kerajaan yang lebih tenang. Jam buka hingga malam, tiket murah, dan sejarah panjang membuatnya cocok bagi yang datang tanpa ekspektasi tinggi, lalu pulang dengan kepuasan tersendiri.
- Gwanghwamun Square
Gwanghwamun Square membentang seluas 40.300 meter persegi di pusat Seoul, diapit Istana Gyeongbokgung di utara dan puncak Bugaksan di kejauhan. Gratis, buka 24 jam, dan menyimpan makna sejarah lebih dalam dari dugaan kebanyakan pengunjung saat pertama kali datang.