Saloma Link: Jembatan Pejalan Kaki Bercahaya di Kuala Lumpur yang Wajib Dilewati Setelah Gelap
Saloma Link adalah jembatan pejalan kaki sepanjang 69 meter yang menghubungkan kawasan Kampung Baru dengan area KLCC melintasi Sungai Klang. Didesain dengan lengkungan dramatis dan pertunjukan cahaya setiap malam, jembatan ini merupakan salah satu infrastruktur urban paling memukau di Kuala Lumpur — dan termasuk sedikit jembatan di Asia Tenggara yang memang dibangun khusus untuk pejalan kaki.
Fakta Singkat
- Lokasi
- Jalan Ampang, menghubungkan Kampung Baru dan KLCC, Kuala Lumpur
- Cara ke sini
- MRT Ampang Park (Jalur Putrajaya) atau LRT Dang Wangi (Jalur Kelana Jaya)
- Waktu yang dibutuhkan
- 20–40 menit untuk menyeberang dan berfoto
- Biaya
- Gratis
- Cocok untuk
- Fotografi malam, pecinta arsitektur, dan jalan kaki antara Chow Kit dan KLCC

Apa Itu Saloma Link?
Saloma Link adalah jembatan pejalan kaki baja bentang tunggal sepanjang 69 meter yang melintasi Sungai Klang dan Lebuhraya DUKE di Kuala Lumpur. Diresmikan pada 5 Februari 2020, jembatan ini dinamai mendiang penyanyi dan aktris Malaysia, Saloma, salah satu penghibur paling dicintai dalam sejarah budaya negara ini. Jembatan ini menjadi penghubung fisik sekaligus simbolis antara dua kawasan urban yang sangat berbeda: energi padat dan kelas pekerja Kampung Baru di utara, dan distrik komersial KLCC yang rapi di selatan.
Strukturnya dirancang oleh firma lokal Arkitek LLA dan dianggap sebagai salah satu infrastruktur publik yang paling matang konsepnya di Kuala Lumpur dalam beberapa tahun terakhir. Tidak seperti banyak jembatan pejalan kaki yang terasa sekadar pelengkap — sempit, pengap, dan paling banter hanya fungsional — Saloma Link punya identitas arsitektur yang jelas. Lengkungan kembar, rangka baja putih, dan sistem pencahayaan LED membuatnya mudah dikenali dari kejauhan, terutama dari Jalan Ampang di malam hari.
💡 Tips lokal
Jembatan ini gratis untuk dilintasi kapan saja. Pertunjukan cahaya LED berlangsung sekitar pukul 19.00–22.00, dengan pergantian warna yang perlahan, bukan berkedip-kedip — yang membuatnya jauh lebih fotogenik dari yang kamu bayangkan.
Bagaimana Jembatan Ini Berubah Sesuai Waktu
Mengunjungi Saloma Link di siang hari dan malam hari benar-benar pengalaman yang berbeda. Di siang hari, struktur rangka baja putihnya tampak bersih dan tegas berlatar langit, tapi jembatannya lebih terasa sebagai fasilitas penyeberangan ketimbang tontonan. Kamu akan memperhatikan lebar dek yang cukup untuk pesepeda dan pejalan kaki berdampingan, serta pemandangan Sungai Klang yang keruh di bawah. Tergantung musim, sungai ini membawa lumpur dan sampah yang mengingatkan bahwa ini jalur air yang aktif, bukan kanal dekoratif.
Setelah matahari terbenam, transformasinya signifikan. Sistem LED terintegrasi menerangi 4.100 panel fasad berlian dalam gradasi biru, merah muda, emas, dan putih yang bergeser perlahan. Kegelapan di sekitarnya membuat struktur ini seakan melayang di atas jalan tol. Dari titik tengah jembatan, kamu bisa melihat Menara Kembar Petronas di selatan — cukup dekat untuk dibingkai rapi dalam foto, cukup jauh untuk mengapresiasi skalanya. Pemandangan ini saja sudah menarik fotografer yang memasang tripod di sepanjang pagar pada akhir pekan malam hari.
Pagi hari kerja membawa suasana berbeda: para pekerja kantoran yang menggunakan jembatan sebagai jalan pintas antara Chow Kit dan KLCC. Langkahnya cepat dan terarah, dan kamu akan didahului orang-orang yang mengecek ponsel sambil berjalan. Di akhir pekan malam, tempo berubah total. Kelompok berkumpul di titik tengah untuk berfoto, pasangan berlama-lama di dekat pagar, dan suasananya lebih santai. Lalu lintas di Lebuhraya DUKE di bawah menciptakan dengungan konstan yang bercampur dengan suara sepeda motor dari Jalan Ampang.
ℹ️ Perlu diketahui
Untuk fotografi, datanglah sekitar pukul 19.30–20.00. Langit masih menyisakan gradasi warna sementara lampu LED sudah aktif, memberikan keseimbangan terbaik antara cahaya alami dan pencahayaan buatan. Bawa lensa sudut lebar kalau punya.
Makna Budaya di Balik Nama Saloma
Nama jembatan ini punya bobot tersendiri dalam budaya populer Malaysia. Saloma (nama lengkap Salmah Ismail, 1935–1983) adalah salah satu penghibur paling dihormati dari era 1950-an hingga 1970-an. Ia membintangi puluhan film produksi Malay Film Productions milik Shaw Brothers dan merekam ratusan lagu dalam karier yang membentang tiga dekade. Ia juga istri legenda perfilman Malaysia lainnya, P. Ramlee, yang museum dan memorialnya berlokasi di Penang.
Menamai jembatan di koridor budaya Kuala Lumpur dengan nama Saloma adalah pilihan yang disengaja oleh perencana kota. Jembatan ini berada di sepanjang kawasan yang menjadi target regenerasi dalam proyek River of Life, yang bertujuan memulihkan dan menghidupkan tepian urban Sungai Klang. Nama Saloma menghubungkan infrastruktur ini dengan identitas budaya Melayu kota di titik di mana KL sedang aktif memposisikan ulang dirinya. Apakah kamu menganggapnya bermakna atau sekadar simbolis tergantung sudut pandangmu, tapi ini memang membuat Saloma Link lebih dari sekadar penyeberangan.
Menyeberangi Jembatan: Apa yang Perlu Kamu Tahu
Ujung Chow Kit jembatan ini berada dekat Jalan Ampang dan terhubung ke pinggiran Chow Kit, salah satu kampung paling berkarakter di KL. Dari sini, pasar pagi yang ramai di Pasar Chow Kit berjarak sekitar 10 menit jalan kaki ke utara. Ujung KLCC menurunkanmu dekat Jalan P. Ramlee, dalam jarak jalan kaki yang nyaman ke menara kembar dan Suria KLCC.
Dek jembatan sepenuhnya beratap, yang sangat berarti mengingat iklim KL. Hujan deras sore hari umum terjadi antara April dan Oktober, dan adanya pelindung di atas berarti kamu tetap bisa menyeberang meski saat hujan ringan. Permukaan di bawah kaki bertekstur dan anti-selip. Pencahayaan di sepanjang jalur pejalan kaki sudah memadai bahkan sebelum pertunjukan LED utama menyala, jadi tidak ada kekhawatiran soal visibilitas setelah gelap.
Jalur landai aksesibilitas tersedia di kedua ujung, membuat jembatan ini bisa dilalui pengguna kursi roda dan kereta bayi, meskipun ada sedikit kemiringan di jalur pendekatan. Jembatan utamanya sendiri datar di sepanjang bentang.
⚠️ Yang bisa dilewati
Di jam sibuk sore hari kerja (sekitar pukul 18.00–19.00), jembatan dipenuhi pejalan kaki yang pulang kerja. Kalau kamu ingin foto bersih tanpa orang asing dalam bingkai, datanglah setelah pukul 21.00 di malam hari kerja atau sebelum pukul 08.00 di pagi akhir pekan.
Saloma Link dalam Konteks Proyek River of Life KL
Saloma Link adalah salah satu komponen paling terlihat dari inisiatif River of Life KL, program regenerasi urban jangka panjang yang berfokus pada Sungai Klang dan Sungai Gombak. Elemen lain dari proyek ini termasuk promenade River of Life yang lebih dekat ke Masjid Jamek, yang telah mengubah sebagian tepian sungai menjadi esplanade yang bisa dilalui pejalan kaki dan diterangi lampu. Saloma Link menambahkan koneksi pejalan kaki lebih ke hulu, memberikan penglaju dan pengunjung alternatif nyata untuk bergerak tanpa kendaraan di bagian kota ini.
Proyek yang lebih luas ini mendapat kritik karena implementasi yang tidak konsisten dan beberapa bagian tepian sungai yang masih kurang dimanfaatkan atau kurang terawat. Saloma Link, sebagai perbandingan, terawat baik dan rutin digunakan, yang menempatkannya di antara hasil terbaik dari upaya regenerasi ini. Kontras antara desain jembatan yang rapi dan beberapa sudut urban yang lebih kasar terlihat dari titik tengahnya cukup mencolok — dan jujur soal posisi transformasi urban KL saat ini.
Siapa yang Sebaiknya Melewatkan Ini
Kalau kamu berkunjung ke Kuala Lumpur dengan jadwal ketat yang fokus pada situs budaya atau sejarah, Saloma Link mungkin tidak layak mendapat kunjungan khusus. Ini adalah jembatan, dan meskipun memang menarik secara visual, di sini tidak ada pameran sejarah, makanan, perbelanjaan, atau pengalaman dalam ruangan. Wisatawan yang tidak begitu tertarik dengan arsitektur atau desain urban mungkin merasa biasa saja dalam waktu kurang dari lima menit.
Saloma Link paling masuk akal sebagai bagian dari jalan-jalan sengaja antara Chow Kit dan KLCC, bukan sebagai tujuan tersendiri. Kalau kamu memang sudah berencana berjalan kaki ke arah itu — misalnya setelah menjelajah pasar di pagi hari lalu menuju ke selatan ke arah menara kembar — menyeberangi Saloma Link hampir tidak menambah waktu dan memberikan daya tarik visual yang signifikan dibanding naik taksi atau ojek daring.
Tips Orang Dalam
- Pemandangan terbaik Saloma Link dari ketinggian bisa dinikmati dari Jalan Ampang, menghadap ke barat laut dari sekitar stasiun MRT Ampang Park. Dari titik ini, profil lengkap kedua lengkungan terlihat bersamaan — berguna kalau kamu ingin memotret jembatannya, bukan dari atasnya.
- Jembatan tidak bisa diakses pukul 01.00–05.00 (Senin–Sabtu) dan pukul 00.30–05.00 (Minggu dan hari libur nasional); lampu LED menyala sekitar pukul 19.00–22.00. Kalau datang setelah tengah malam, kamu tetap bisa menyeberang dengan pencahayaan dasar, tapi tanpa pertunjukan warna.
- Padukan penyeberangan Saloma Link dengan jalan-jalan sore di Taman KLCC yang ada tepat di sebelah selatan — pertunjukan air mancur taman berjalan sesuai jadwal dan area ini terang serta nyaman setelah gelap.
- Di sisi Chow Kit, area sekitar jembatan lebih fungsional ketimbang indah. Luangkan beberapa menit untuk mengenali arah sebelum masuk lebih dalam ke kampung, karena jalan-jalan dekat akses jembatan cukup ramai lalu lintas.
- Kalau kamu merekam video dan bukan foto, berjalan pelan dari ujung Chow Kit ke ujung KLCC saat pertunjukan cahaya berlangsung akan menghasilkan efek Menara Kembar yang perlahan terungkap saat kamu bergerak ke selatan — teknik yang efektif untuk konten perjalanan.
Untuk Siapa Saloma Link?
- Pecinta arsitektur dan desain yang tertarik dengan pembangunan urban terbaru KL
- Fotografer yang mencari bidikan malam memadukan infrastruktur modern dengan latar Menara Kembar Petronas
- Wisatawan yang berjalan kaki antara Chow Kit dan KLCC dan ingin menghindari jalanan sama sekali
- Pengunjung yang menjelajahi koridor regenerasi River of Life di sepanjang Sungai Klang
- Pasangan yang mencari jalan-jalan sore romantis tanpa biaya
Atraksi Terdekat
Hal lain yang bisa dilihat di Chow Kit:
- Pasar Chow Kit
Pasar Chow Kit adalah pasar basah terbesar dan paling apa adanya di Kuala Lumpur, tempat pedagang menjual segalanya mulai dari buah tropis eksotis, daging segar, rempah kering, hingga jajanan kaki lima. Pasar ini membuka jendela langka ke cara kota ini benar-benar memberi makan warganya — jauh dari fasad yang dipoles untuk turis.
- Kampung Baru
Kampung Baru adalah salah satu sudut paling unik di Kuala Lumpur: kawasan pertanian Melayu yang ditetapkan sejak 1900 dan bertahan nyaris utuh, dikelilingi gedung pencakar langit berkilau. Rumah-rumah kayu kampung berdiri berdampingan dengan warung pinggir jalan, dan pasar akhir pekan menarik warga dari seluruh kota untuk menikmati nasi lemak, ikan bakar, dan kuih tradisional. Tempat ini paling dinikmati dengan jalan santai dan rasa ingin tahu yang tulus.
- Taman Titiwangsa
Taman Titiwangsa adalah salah satu ruang hijau terbesar dan terpopuler di Kuala Lumpur, berpusat di sebuah danau luas dengan latar cakrawala kota yang tak terduga. Taman ini lebih banyak dikunjungi warga lokal ketimbang turis — dan justru itulah daya tariknya.