Panduan Kuliner Roma: Apa yang Harus Dimakan di Roma

Masakan Roma adalah salah satu yang paling khas, penuh pendirian, dan memuaskan di Italia. Panduan ini membahas hidangan wajib, aturan tak tertulis warga lokal, kawasan makan terbaik, dan cara menghindari jebakan wisata yang mengaku-aku masakan Italia.

Tampilan dekat hidangan pasta carbonara khas Roma di atas taplak meja kotak-kotak di luar restoran rustic di Roma.

Ringkasan

  • Masakan Roma bertumpu pada empat pasta: cacio e pepe, carbonara, amatriciana, dan gricia. Pelajari cara membedakan versi aslinya.
  • Tradisi quinto quarto (jeroan) adalah inti budaya kuliner Roma. Hidangan seperti trippa alla romana dan coda alla vaccinara paling mudah ditemukan di Testaccio, kawasan bekas rumah jagal kota.
  • Musim sangat berpengaruh di sini: artichoke mendominasi menu musim semi (Maret hingga Mei), porchetta hadir di musim gugur, dan menu musim panas terasa jauh lebih ringan.
  • Hindari restoran yang langsung berdekatan dengan monumen besar seperti Colosseum atau Fontana Trevi. Jalan dua blok ke arah mana pun, dan kualitas makanannya langsung jauh lebih baik.
  • Pasta dibanderol €12–18 di trattoria yang layak. Anggarkan €25–35 per orang untuk makan lengkap dengan wine di restoran kawasan lokal.

Empat Pasta Khas Roma (Dan Mengapa Itu Penting)

Sepiring pasta dengan guanciale dan peterseli, kemungkinan hidangan khas Roma seperti carbonara atau amatriciana, disajikan di meja luar ruangan.
Photo Anthony Rahayel

Tidak ada kota lain di Italia yang membela pastaanya dengan keyakinan sekuat Roma. Budaya pasta Roma berpusat pada empat hidangan: cacio e pepe, carbonara, amatriciana, dan gricia. Keempatnya berbagi bahan yang sama — guanciale (pipi babi yang diawetkan), pecorino romano, lada hitam, dan kadang telur atau tomat — namun masing-masing memiliki karakter tersendiri dengan aturan tak tertulis yang dijaga ketat. Warga lokal langsung tahu kalau restoran melenceng dari pakem.

  • Cacio e pepe Yang paling sederhana sekaligus paling sulit disempurnakan. Tonnarelli atau spaghetti, pecorino romano, lada hitam. Tanpa krim, tanpa mentega, tanpa jalan pintas. Keju harus bisa melebur menjadi saus dengan bantuan air rebusan pasta. Hasil yang berbutir atau menggumpal menandakan dapur melewatkan teknik yang benar.
  • Carbonara Kuning telur, pecorino romano, guanciale, lada hitam. Tidak ada krim, titik. Bukan pancetta, bukan bacon. Panas dari pasta harus memasak telur secara perlahan — bukan menggorengnya. Disajikan dengan rigatoni atau spaghetti. Hidangan ini sudah banyak dirusak di luar Roma, jadi mendapatkan versi aslinya di sini terasa benar-benar memuaskan.
  • Amatriciana Tomat, guanciale, pecorino, cabai kering. Berasal dari kota Amatrice (timur laut Roma), kemudian diserap oleh masakan Roma dan kini dianggap sebagai salah satu pilarnya. Saus tomatnya harus sedikit tajam dan hampir tidak dimasak. Disajikan dengan rigatoni atau bucatini.
  • Gricia Kadang disebut 'amatriciana putih' karena mendahului era tomat dalam masakan Italia. Guanciale, pecorino, lada. Kaya dan berlemak dengan cara yang terasa purba — dan memang begitulah adanya, karena tekniknya sudah sangat tua.

⚠️ Yang bisa dilewati

Carbonara adalah hidangan yang paling sering dipalsukan di kawasan wisata Roma. Setiap menu yang mencantumkan carbonara dengan krim, atau menampilkan foto saus kuning cerah yang kental, bukanlah versi Roma asli. Tinggalkan saja. Hidangan yang benar hanya menggunakan kuning telur, guanciale, pecorino, dan lada.

Quinto Quarto: Tradisi Jeroan Roma

Kios penjual daging dengan berbagai potongan daging dan jeroan yang digantung dan dipajang, diterangi dalam suasana seperti pasar.
Photo Sora K

Masakan Roma punya akar kelas pekerja yang kerap luput dari perhatian pengunjung. Quinto quarto — harfiahnya 'seperempat kelima' — merujuk pada bagian jeroan yang tersisa setelah para penjagal membagi karkas menjadi empat bagian untuk pembeli kaya. Para pekerja rumah jagal di Testaccio membawa sisa-sisa ini pulang dan dari sanalah lahir masakan dengan kedalaman rasa yang luar biasa. Tradisi itu masih menjadi bagian dari identitas kuliner Roma.

Hidangan paling penting: trippa alla romana (babat yang dimasak lambat dengan bawang, tomat, daun mint segar, dan pecorino), coda alla vaccinara (buntut sapi yang dibraise dengan seledri, tomat, dan sentuhan akhir pahit-manis), pajata (usus anak sapi yang masih menyusu, disajikan di atas rigatoni), dan coratella (tumisan campuran jantung, paru, dan hati). Hidangan-hidangan ini terkonsentrasi di Testaccio, tempat berdirinya rumah jagal kota dahulu. Trattoria di kawasan ini seperti Flavio al Velavevodetto dan Da Remo menyajikannya tanpa basa-basi.

ℹ️ Perlu diketahui

Hidangan jeroan paling nikmat dimakan di musim gugur dan dingin. Warga Roma sendiri makan lebih ringan di musim panas, dan dapur-dapur pun menyesuaikan menu. Kalau kamu berkunjung antara Juni hingga Agustus, jangan heran bila menu trattoria tradisional terasa lebih terbatas. Pengalaman quinto quarto terbaik ada di antara Oktober hingga April.

Makan Mengikuti Musim di Roma: Pesan Apa dan Kapan

Tampilan buah dan sayuran musiman yang berwarna-warni dengan tanda harga di lapak pasar Roma yang ramai.
Photo Magda Ehlers

Masakan Roma mengikuti kalender pertanian Roman Campagna, lahan pertanian di sekitar kota. Ini bukan gaya farm-to-table yang sekadar jadi jargon pemasaran — ini mencerminkan cara pasar seperti Campo de' Fiori dan Mercato di Testaccio beroperasi selama berabad-abad. Mengetahui musimnya berarti kamu tahu apa yang harus dipesan.

  • Musim Semi (Maret hingga Mei) Artichoke adalah bahan bintang musim semi Roma. Pesan carciofi alla romana (dibraise dengan daun mint dan bawang putih) atau carciofi alla giudia (digoreng hingga renyah, hidangan khas Yahudi-Roma). Kacang fava dengan pecorino adalah camilan sederhana yang sempurna di warung mana pun atau lapak pasar. Kacang polong segar muncul dalam hidangan pasta dan nasi.
  • Musim Panas (Juni hingga Agustus) Pilihan menu menjadi lebih ringan. Ikan bakar, bunga zucchini isi ricotta dan teri (fiori di zucca), serta antipasto sayuran sederhana mendominasi. Warga Roma mengungsi dari kota di bulan Agustus, sehingga banyak trattoria tradisional tutup. Wisatawan mendominasi dan kualitas di banyak tempat menurun.
  • Musim Gugur (September hingga November) Porchetta (babi guling utuh yang dibumbui rosemary, bawang putih, dan adas) ada di puncak kualitasnya. Daging buruan mulai muncul di menu. Jamur, khususnya porcini, hadir dalam pasta dan hidangan utama. Hidangan quinto quarto kembali hadir sepenuhnya.
  • Musim Dingin (Desember hingga Februari) Bulan-bulan terdingin Roma menghadirkan makanan paling kaya. Daging braise, sup kacang kental, dan jeroan menjadi andalan. Baccalà (ikan kod asin) tampil menonjol, terutama di kawasan Ghetto Yahudi. Bisa dibilang ini musim terbaik untuk menikmati masakan Roma secara tradisional.

Untuk produk musiman terbaik, langsung saja ke pasar. Campo de' Fiori buka setiap hari kecuali Minggu dari sekitar pukul 07.00 hingga 14.00, dengan harga artichoke sekitar €3–5 per kilogram di musim semi dan pecorino romano €20–25 per kilogram. Mercato di Testaccio adalah pilihan yang lebih lokal dan kurang fotogenik — dan justru karena itu kualitasnya sering lebih baik dengan harga yang lebih terjangkau.

Masakan Yahudi-Roma: Tradisi yang Berbeda

Foto hitam putih orang-orang yang makan di meja luar ruangan dekat bangunan bersejarah, membangkitkan pesona Ghetto Yahudi Roma.
Photo Yiannis Tsapanidis

Komunitas Yahudi Roma telah hadir selama lebih dari 2.000 tahun, menjadikan Ghetto Yahudi salah satu kawasan Yahudi berpenghuni tertua di dunia. Masakan yang berkembang di sini berbeda dari masakan Roma arus utama maupun masakan Yahudi Ashkenazi yang mungkin lebih dikenal banyak pengunjung. Masakan ini mengadaptasi bahan-bahan Roma ke dalam hukum diet kosher, menghasilkan hidangan dengan orisinalitas yang luar biasa.

Carciofi alla giudia adalah contoh paling terkenal: artichoke yang dipipihkan lalu digoreng dua kali dalam minyak zaitun hingga daun terluarnya menjadi renyah seperti keripik sementara bagian tengahnya tetap lembut. Baccalà (ikan kod asin) goreng berbalur tepung adalah hidangan pokok lainnya. Filetti di baccalà dari Filetti di Baccalà dekat Largo dei Librari adalah salah satu pengalaman makan paling khas dan layak dicoba di Roma. Kawasan Ghetto Yahudi tetap menjadi tempat yang tepat untuk menjelajahi tradisi ini, meski beberapa restoran di sini sudah mulai berorientasi ke wisatawan. Minta artichoke goreng sebelum kamu melihatnya terpampang di papan menu wisatawan.

Jajanan, Camilan, dan Budaya Bar Roma

Tampilan luar sebuah bar Roma yang menawan dengan tempat duduk di jalan berbatu, dinding berwarna oranye, dan seseorang menikmati kopi di meja.
Photo Vito Giaccari

Jajanan kaki lima Roma tidak mencoba bersaing dengan Napoli soal pizza atau Sisilia soal arancini. Roma punya ritmenya sendiri, yang berpusat pada bar (kafe) dan format camilan tertentu yang dinikmati sambil berdiri atau berjalan.

Supplì adalah jawaban Roma atas arancini: kroket nasi goreng isi ragù dan mozzarella, dimakan panas langsung dari bungkus kertas. Yang terbaik bisa ditemukan di Da Enzo al 29 di Trastevere atau Supplì Roma dekat kawasan Largo Argentina. Pizza al taglio (pizza per irisan, dijual per berat) adalah format makan siang cepat yang tepat. Kualitasnya sangat bervariasi — cari tempat di mana pizza terus berputar cepat melalui oven panas dan staf selalu memotong irisan baru, bukan membiarkannya mengering.

Bar Roma menyajikan espresso yang diminum berdiri di meja kasir seharga sekitar €1–1,50, jauh lebih murah dibanding duduk di meja (yang dikenakan biaya layanan). Cornetti (croissant khas Roma, lebih lembut dan kurang bermentega dibanding croissant Prancis) isi krim atau selai adalah sarapan yang sah dengan harga di bawah €2. Budaya bar di kawasan seperti Monti dan Trastevere adalah tempat di mana kehidupan sehari-hari warga lokal benar-benar berlangsung.

✨ Tips pro

Kualitas gelato di Roma sangat bervariasi. Hindari gelateria yang menyajikan produknya dalam tumpukan tinggi penuh warna — itu tanda gelato dipompa udara dan diberi pewarna buatan. Cari gelateria yang menyimpan produknya dalam wadah logam tertutup (pozzetti). Nama-nama seperti Fior di Luna di Trastevere, Gelateria dei Gracchi dekat Vatikan, dan Come il Latte dekat Spanish Steps secara konsisten mendapat penilaian baik dari pengunjung yang peduli soal makanan.

Tempat Makan: Panduan Kawasan dan Tips Praktis

Pemandangan jalan sebuah trattoria Romawi yang rustic dengan tempat duduk luar ruangan, dinding batu tua, dan papan tanda Piazza della Scala, seseorang berdiri di dekat pintu masuk.
Photo Vito Giaccari

Satu aturan terpenting untuk makan dengan baik di Roma: semakin dekat dengan monumen besar, semakin rendah kualitas makanan di kisaran harga yang sama. Restoran dalam radius 50 meter dari objek wisata utama hampir semuanya mengandalkan lalu lintas pejalan kaki, bukan kualitas masakan. Ini bukan hukum mutlak — ada pengecualian — tapi ini adalah patokan yang sangat bisa diandalkan.

Testaccio adalah kawasan yang paling serius soal masakan Roma tradisional. Di sinilah warga lokal makan, tradisi jeroan tetap terjaga, dan kamu bisa menemukan beberapa makan malam trattoria dengan nilai terbaik di Roma. Trastevere memiliki lebih banyak wisatawan, tapi masih menyimpan tempat-tempat makan yang sangat bagus, terutama untuk masakan Yahudi-Roma dan pizza kasual. Monti, yang dekat dengan Forum Romawi dan Colosseum, layak diketahui untuk pilihan makan siang yang jauh dari keramaian wisatawan. Prati, tepat di seberang sungai dari Vatikan, punya kepadatan tinggi restoran kawasan yang sah, yang biasa digunakan oleh warga dan pekerja kantoran di sekitar Vatikan.

Perencanaan anggaran: makan lengkap di trattoria dengan wine berkisar €25–35 per orang di restoran kawasan lokal. Pasta saja rata-rata €12–18. Hidangan jeroan sering sedikit lebih murah, sekitar €10–15, mencerminkan asal-usulnya sebagai makanan kelas pekerja. Biaya coperto (biaya meja) sebesar €1,50–3 per orang adalah hal normal dan sah — ini bukan penipuan, hanya kebiasaan restoran Roma. Tip tidak wajib; membulatkan tagihan atau menambahkan 5–10% untuk pelayanan yang baik sudah sangat diapresiasi.

Apa yang Dimakan Orang Roma Kuno (Dan Mengapa Ini Penting)

Pemandangan luas reruntuhan Forum Romanum di Roma di bawah langit biru, menampilkan kolom-kolom kuno dan sisa-sisa struktur bersejarah Romawi.
Photo Duc Tinh Ngo

Ada kesalahpahaman umum yang perlu diluruskan: makanan Roma kuno hampir tidak ada hubungannya dengan apa yang dimakan warga Roma saat ini. Orang Roma kuno tidak mengenal tomat, terong, paprika, apalagi pasta seperti yang kita kenal. Bahan-bahan itu baru tiba di Italia dari Amerika dan Asia jauh di kemudian hari. Masakan Roma kuno menggunakan garum (saus ikan fermentasi yang ditambahkan ke hampir semua hidangan), bubur millet, zaitun, wine, dan — yang cukup terkenal — tikus tanah. Kesinambungan antara masakan Roma kuno dan modern bersifat kultural dan geografis, bukan kuliner.

Masakan Roma modern seperti yang dipraktikkan saat ini berkembang sejak periode abad pertengahan, dengan tradisi pasta utama yang mengkristal pada abad ke-19 dan ke-20. Bahannya sederhana, tekniknya disempurnakan turun-temurun, dan hasilnya begitu khas kota ini sehingga sulit direplikasi di tempat lain. Pecorino romano yang digunakan dalam cacio e pepe adalah produk dengan sebutan asal yang dilindungi (PDO) dengan persyaratan produksi khusus. Guanciale dalam carbonara tidak bisa ditukar dengan bacon begitu saja. Detail-detail inilah yang menjelaskan mengapa hidangan yang sama terasa berbeda di sini. Untuk konteks lebih lengkap soal makan dan minum di berbagai kawasan Roma, lihat panduan lengkap tempat makan di Roma.

💡 Tips lokal

Jika kamu ingin panduan terstruktur menjelajahi dunia kuliner Roma, tur makanan yang diselenggarakan oleh operator seperti EatandWalkItaly dan Through Eternity menggabungkan cicipan makanan dengan konteks kawasan yang kaya. Ini sangat cocok untuk pengunjung pertama kali yang ingin memahami apa yang mereka makan dan mengapa. Anggarkan sekitar €50–80 per orang untuk tur kuliner setengah hari yang berkualitas.

Sedang merencanakan perjalanan lebih luas? Pengalaman kuliner akan terasa jauh lebih bermakna bila dipahami bersama kawasan yang kamu jelajahi. Itinerary Roma tiga hari yang padat bisa disusun seputar makan sama seperti mengunjungi tempat wisata — kota ini memberi banyak reward untuk pendekatan semacam itu. Dan kalau anggaran jadi pertimbangan, ada pilihan yang nyata: makan enak di Roma dengan anggaran terbatas benar-benar bisa diwujudkan kalau kamu menghindari jebakan wisata di sekitar monumen dan makan di tempat yang sama dengan warga lokal.

Tanya Jawab

Apa hidangan pasta Roma yang paling tradisional?

Keempat pasta kanonik Roma — cacio e pepe, carbonara, amatriciana, dan gricia — sama-sama tradisional. Gricia bisa dibilang yang tertua, mendahului kedatangan tomat di Italia. Cacio e pepe adalah yang paling menuntut secara teknis untuk dibuat dengan benar. Carbonara adalah yang paling dikenal secara internasional sekaligus yang paling sering dirusak dengan penambahan krim, yang sama sekali bukan bagian dari resep aslinya.

Benarkah carbonara di Roma tidak pakai krim?

Benar. Carbonara Roma yang otentik hanya menggunakan kuning telur, guanciale (pipi babi yang diawetkan), pecorino romano, dan lada hitam. Sausnya mendapatkan tekstur creamy dari emulsifikasi kuning telur dan air rebusan pasta di atas panas yang lembut. Menambahkan krim adalah adaptasi non-Roma. Restoran mana pun di Roma yang menyajikan carbonara berbasis krim entah sedang mencari jalan pintas atau memang hanya melayani wisatawan.

Kapan waktu terbaik makan artichoke di Roma?

Artichoke musimnya kira-kira dari akhir Februari hingga Mei, dengan ketersediaan dan kualitas terbaik di bulan Maret dan April. Inilah saat kamu akan menemukannya paling murah dan paling segar di pasar seperti Campo de' Fiori dan Mercato di Testaccio. Di luar periode ini, hidangan artichoke kemungkinan menggunakan bahan beku atau impor, dan perbedaan rasanya cukup terasa.

Apa itu quinto quarto dan di mana saya harus mencobanya?

Quinto quarto berarti 'seperempat kelima' dan merujuk pada bagian jeroan hewan — organ dalam, usus, ekor — yang tersisa setelah empat potongan utama terjual. Para penjagal dan pekerja rumah jagal Roma mengembangkan hidangan kaya yang dimasak lambat dari bahan-bahan ini. Kawasan terbaik untuk mencoba hidangan quinto quarto adalah Testaccio, tempat berdirinya rumah jagal kota dahulu. Cari trippa alla romana (babat dengan tomat dan pecorino) dan coda alla vaccinara (buntut sapi braise) di menu-menu sana.

Berapa yang harus saya siapkan untuk makan di Roma?

Di trattoria kawasan lokal yang layak, pasta berkisar €12–18, hidangan utama (secondi) €15–22, dan makan lengkap dengan wine rumahan sekitar €25–35 per orang. Kebanyakan restoran menambahkan coperto (biaya meja) sebesar €1,50–3 per orang — ini hal yang normal. Jajanan seperti supplì harganya €1,50–2,50 per buah, pizza al taglio sekitar €4–7 per 100 gram tergantung lokasi. Espresso di meja kasir bar €1–1,50. Duduk di meja di kafe mana pun dikenakan biaya layanan tambahan.

Destinasi terkait:rome

Sedang merencanakan perjalanan? Temukan aktivitas personal dengan aplikasi Nomado.