Masjid Eyüp Sultan: Tempat Ziarah Paling Sakral di Istanbul

Dibangun tahun 1458 di atas makam Abu Ayyub al-Ansari, sahabat Nabi Muhammad, Masjid Eyüp Sultan menjadi salah satu lokasi paling suci di Turki. Terletak di tepi Golden Horn di luar tembok kota tua, tempat ini menarik peziarah dan pelancong yang ingin mengenal sisi Istanbul yang sering terlupa dari daftar wisata umum.

Fakta Singkat

Lokasi
Distrik Eyüp, sisi Eropa, di tepi Golden Horn
Cara ke sini
Naik feri dari Eminönü atau Karaköy ke dermaga Eyüp (jalur Haliç Hattı), lalu jalan kaki 5 menit
Waktu yang dibutuhkan
1,5 – 2,5 jam, termasuk area pemakaman dan Bukit Pierre Loti
Biaya
Masuk gratis; donasi ke makam sangat dianjurkan
Cocok untuk
Pencinta sejarah, penggemar arsitektur, peziarah, pelancong yang suka jalur antimainstream
Masjid Eyüp Sultan dengan gerbang agung dan menara-menara ramping, dikelilingi pohon-pohon tinggi dan alun-alun ramai dengan orang-orang di bawah langit cerah.

Apa Itu Masjid Eyüp Sultan Sebenarnya

Masjid Eyüp Sultan bukan sekadar tempat salat. Ini adalah masjid dengan makna emosional paling kuat di Istanbul, bahkan mungkin di seluruh Turki, karena alasan yang jauh melampaui sekadar usia atau arsitektur. Kompleks ini dibangun di sekitar makam Abu Ayyub al-Ansari (dikenal di Turki sebagai Eyüp Ensari), sahabat Nabi Muhammad dan pembawa panji yang gugur saat pengepungan Konstantinopel di abad ke-7. Bagi umat Muslim, berada dekat makam ini memiliki makna spiritual mendalam.

Sultan Mehmed II memerintahkan pembangunan masjid ini pada 1458, hanya lima tahun sesudah penaklukan Konstantinopel oleh Ottoman. Lokasi dipilih dengan sengaja—memberi penghormatan tokoh besar masa awal Islam di ambang pintu ibu kota Bizantium menjadikan kekuasaan baru Ottoman lebih sah secara spiritual. Tradisinya, para sultan Ottoman melangsungkan upacara pemasangan pedang Osman di tempat ini sebelum naik tahta—tradisi yang bertahan berabad-abad.

Bangunan yang ada saat ini bukanlah masjid asli. Setelah bangunan tahun 1458 mengalami kerusakan berat, masjid ini dibangun ulang secara total pada tahun 1800 bergaya Barok Ottoman oleh Sultan Selim III. Tampak luar berupa batu pucat dengan dua menara ramping, kubah tengah berdiameter sekitar 17,5 meter didukung semi kubah kecil dan lengkung, serta interior keramik memadukan motif klasik Iznik dengan dekorasi khas akhir zaman Ottoman. Untuk referensi arsitektur masjid lain di Istanbul, lihat panduan masjid terbaik di Istanbul.

Jalur Masuk: Apa yang Terlihat Sebelum Memasuki

Jalan kaki dari dermaga feri Eyüp ke masjid memakan waktu sekitar lima menit dan langsung memberi kesan ini bukan kawasan wisata biasa. Jalan semakin kecil, ritme warga melambat, dan suasana terasa berbeda. Anda akan melihat keluarga dari seluruh Turki dan mancanegara, banyak yang membawa tasbih, beberapa memakai pakaian tradisional. Penjual di tepi jalan menjajakan air mawar, buku agama, hingga simit dari gerobak, dan aroma dupa melayang dari kios perlengkapan ibadah.

Gerbang utama terbuka ke pelataran luas yang teduh berkat pohon plane kuno, konon usianya ratusan tahun. Burung merpati kerap bergerombol di bawahnya. Lantai pelataran dari marmer, licin halus oleh jutaan langkah kaki, agak licin jika hujan. Setiap hari Jumat dan bulan Ramadan, area ini penuh sesak.

💡 Tips lokal

Datang Selasa atau Rabu pagi untuk suasana paling tenang. Hari Jumat pelataran sangat ramai menjelang salat siang, akhir pekan juga ramai keluarga. Jika ingin melihat salat tanpa keramaian menutupi pandangan, pilih hari kerja setelah salat subuh.

Tiket dan tur

Pilihan terpilih dari mitra pemesanan kami. Harga bersifat indikatif; ketersediaan dan harga akhir dikonfirmasi saat Anda menyelesaikan pemesanan.

  • Half day Morning Ottoman Splendors tour, including the Blue Mosque

    Mulai dari 48 €Konfirmasi instanPembatalan gratis
  • Istanbul Basilica Cistern, Blue Mosque and Hagia Sophia tour

    Mulai dari 83 €Konfirmasi instanPembatalan gratis
  • Istanbul mosaics and Blue Mosque 1-day small group tour

    Mulai dari 62 €Konfirmasi instanPembatalan gratis
  • Istanbul combo tour of Hagia Sophia and Blue Mosque

    Mulai dari 114 €Konfirmasi instanPembatalan gratis

Bagian Dalam: Area Masjid dan Makam

Pengunjung non-Muslim boleh masuk ke masjid di luar waktu salat. Suasananya lebih tenang dan terasa intim dibanding masjid-masjid besar di kawasan Sultanahmet. Cahaya masuk lembut lewat jendela kaca patri di dinding, sedangkan keramik di sekitar mihrab berwarna biru tua dan turquoise bergaya Iznik, hasil restorasi. Karpetnya tebal, akustik ruangan terasa lembut, menciptakan aura khusyuk.

Makam Abu Ayyub al-Ansari berada di mausoleum terpisah, berdampingan langsung dengan masjid dan masuk lewat pelataran. Inilah titik suasana religi terasa sangat kuat. Pengunjung mengantre mendekat ruang makam yang dihiasi jeruji emas dan lampu gantung. Banyak yang berdoa dengan tenang, beberapa menitikkan air mata. Terlepas dari agama Anda, atmosfirnya jelas terasa: di sini duka, harap, dan devosi berpadu.

⚠️ Yang bisa dilewati

Berpakaianlah sopan sebelum masuk. Wanita wajib menutup rambut (kerudung tersedia di pintu masuk jika tak membawa), pria dan wanita wajib menutup bahu serta lutut. Lepas sepatu sebelum masuk ke masjid dan mausoleum. Suara keras atau foto berlebihan di area makam dianggap tidak sopan dan bisa langsung ditegur pengunjung lain.

Fotografi di dalam masjid dan mausoleum umumnya diperbolehkan di banyak area, tapi tetap gunakan pertimbangan. Foto arsitektur berlensa lebar umumnya aman. Jangan memotret orang yang sedang salat. Area pelataran, pohon plane, serta detil luar menara cocok untuk dijadikan foto tanpa memasuki area sensitif.

Kompleks Pemakaman dan Jalur Menuju Bukit Pierre Loti

Di lereng bukit tepat di belakang masjid terbentang salah satu pemakaman paling berkesan di Istanbul—sebuah lanskap kuburan Ottoman yang bertingkat naik di antara pohon cemara. Makam-makam marmer berpenutup sorban dari abad ke-18 dan 19 berdampingan dengan makam lebih baru. Tulisan pada batu nisan memakai huruf Ottoman yang bahkan tak bisa dibaca oleh banyak orang Turki masa kini, menambah kesan jarak waktu yang tepat untuk sebuah tempat sejarah.

Jalan setapak melintasi pemakaman membawa Anda ke Pierre Loti Hill, dinamai dari novelis Prancis Julien Viaud (nama pena Pierre Loti) yang sering menulis sambil duduk di kafe di puncak bukit menghadap Golden Horn. Tersedia juga cable car (teleferik) dari bukit ke bawah jika ingin turun tanpa harus berjalan melewati pemakaman lagi. Dari puncak, panorama Golden Horn dan area kota tua tampak tenang, jauh dari keramaian Galata Tower.

Waktu berjalan melintasi pemakaman sekitar 20 sampai 30 menit dengan santai. Ada bagian jalur yang belum diaspal dan cukup terjal, serta akar dan batu nisan lama membuat pijakan kadang tidak rata. Sulit untuk kursi roda dan cukup menantang untuk stroller. Gunakan sepatu beralas kuat, apalagi jika musim hujan.

Bagaimana Suasana Berubah Sepanjang Hari

Pagi hari antara jam 8–9, suasana masjid dan sekitarnya benar-benar berbeda. Pelataran masih sepi, biasanya hanya ada beberapa lelaki tua berzikir dan beberapa ekor merpati. Cahaya pagi rendah, menyorot ukiran di menara dan menghangatkan wajah batu pucat masjid. Jika ingin mengamati tanpa merasa mencolok, ini waktunya.

Menjelang siang, area semakin ramai. Ada rombongan turis dari paket perjalanan Istanbul, tetapi mayoritas pengunjung adalah warga Turki sendiri, peziarah dari negara muslim lain, plus sedikit pelancong mandiri. Antrean di makam biasanya mulai mengular. Jam 2 siang ke atas, ruangan terasa penuh energi, suara dari jalanan sekitar, aroma dupa penjual, dan lantunan azan dari menara terasa padat bersamaan.

Menjelang sore, setelah pukul 4, pengunjung mulai berkurang. Cahaya Golden Horn jadi keemasan dan bayangan menara memanjang di pelataran. Inilah waktu favorit untuk foto-foto atau duduk santai di tembok batu rendah di bawah pohon plane tanpa harus tergesa-gesa.

ℹ️ Perlu diketahui

Selama Ramadan, suasana Eyüp Sultan berubah total setelah matahari terbenam. Area sekitar masjid jadi pusat iftar, penuh stan makanan, kerumunan besar, dan nuansa ramah tamah yang berlanjut sampai malam. Jika berkunjung saat Ramadan, wajib mencobanya.

Akses dan Info Praktis

Cara paling seru ke Eyüp adalah naik feri menyusuri Golden Horn. Feri Golden Horn berangkat dari Eminönü dan Karaköy di sisi Eropa, berhenti di beberapa dermaga sebelum sampai di Eyüp. Perjalanan dari Eminönü sekitar 30–40 menit, tarif standar bisa dibayar pakai Istanbulkart. Naik feri memberi sudut pandang Golden Horn dari permukaan air yang tidak didapat naik bus atau taksi. Untuk informasi transportasi di seluruh kota, cek panduan berkeliling Istanbul.

Bus juga melayani distrik Eyüp dari banyak titik di sisi Eropa, dan taksi bisa langsung mengantarkan ke gerbang masjid. Jalan-jalan di sekitar masjid sempit, lalu lintas di akhir pekan bisa padat. Jika naik taksi, minta diturunkan di Eyüp İskelesi (dermaga Eyüp) dan lanjutkan jalan kaki sebentar dari sana.

Masjid Eyüp Sultan berada di distrik Eyüp, secara teknis bersebelahan tapi berbeda dengan kawasan kawasan Fener-Balat. Kedua area terhubung jalur pejalan kaki di tepi Golden Horn, sekitar 15 menit berjalan kaki. Banyak pengunjung memilih pagi hari menjelajah masjid lalu siangnya menikmati rumah warna-warni dan kafe di Balat.

Siapa yang Perlu Pertimbangkan Lagi

Masjid Eyüp Sultan adalah tempat ibadah aktif, bukan museum. Jika pengunjung datang cuma untuk checklist destinasi, berharap akses dan penjelasan netral layaknya situs warisan, mungkin akan merasa suasananya lebih kompleks dari yang diperkirakan. Antrean di makam bisa lama, nuansanya sangat emosional. Lingkungan di sekitarnya cukup konservatif, dan suasana di dalam kompleks murni penuh penghayatan, bukan pertunjukan.

Pelancong dengan keterbatasan mobilitas perlu tahu jalur pemakaman menuju Bukit Pierre Loti cukup terjal dan pijakan tidak rata. Pelataran masjid memang datar, dan kabel gantung teleferik dapat jadi alternatif untuk ke puncak, tapi seluruh area sekitar belum ramah aksesibilitas.

Jika Anda lebih suka arsitektur Ottoman yang megah, Süleymaniye Mosque atau Masjid Biru di Sultanahmet jauh lebih dramatis secara visual. Kekuatan utama Eyüp Sultan adalah makna sejarah dan spiritual, bukan kemegahan visual, dan pengunjung yang paham perbedaannya justru sering merasa ini termasuk destinasi paling membekas di Istanbul.

Tips Orang Dalam

  • Setelah berkunjung ke masjid, cobalah berjalan kaki ke utara menyusuri jalur pejalan kaki tepi Golden Horn menuju Balat, bukan langsung kembali dengan feri. Jalan santai 15 menit ini melewati taman-taman teh kecil dan memberi sudut pandang kota tua dari tepi air.
  • Kabel gantung (teleferik) di puncak Bukit Pierre Loti menghubungkan bukit dan tepi dermaga Eyüp. Jika tidak ingin mendaki pemakaman, naiklah teleferik dari bawah, lalu turuni jalan setapak di antara makam agar suasana ziarah lebih terasa.
  • Botol kecil air mawar dijual oleh pedagang di dekat pintu masuk masjid, biasa dipakai sebagai pengharum lembut di area makam. Tidak wajib membeli, tapi membeli satu sebagai bentuk penghormatan saat berada di makam dinilai sopan.
  • Restoran lokal di sekitar masjid menyajikan menu rumahan Turki seperti börek, sup lentil, dan nasi dengan harga jauh lebih hemat dibanding kawasan wisata seperti Sultanahmet atau Beyoğlu. Cari warung dengan papan menu tulisan tangan tanpa terjemahan Inggris.
  • Jika datang hari Jumat, ingat area sekitar masjid akan sangat padat menjelang waktu salat Jumat. Datanglah sebelum jam 10 pagi atau sesudah jam 2 siang supaya terhindar dari kemacetan pejalan kaki di jalanan dan pelataran.

Untuk Siapa Masjid Eyüp Sultan?

  • Pelancong yang tertarik sejarah Ottoman serta warisan awal Islam di Istanbul
  • Pengunjung yang ingin merasakan suasana tempat ziarah aktif, bukan sekadar objek wisata
  • Siapa saja yang ingin berjalan santai menyusuri kawasan Fener-Balat setelah dari masjid
  • Pecinta fotografi yang mencari suasana otentik, cahaya pagi, dan momen kedatangan feri di Golden Horn
  • Tamu di bulan Ramadan yang mengincar suasana iftar paling meriah di kota

Atraksi Terdekat

Hal lain yang bisa dilihat di Fener & Balat:

  • Patriarkat Ekumenis Konstantinopel

    Berlokasi di kawasan bersejarah Fener di tepi Golden Horn, Patriarkat Ekumenis Konstantinopel adalah salah satu lembaga Kristen tertua dan paling berpengaruh. Kompleks ini berpusat pada Katedral St George, tempat ibadah aktif dan tujuan ziarah yang telah menjadi jantung kehidupan Ortodoks di kota ini selama lebih dari empat abad.

  • Miniatürk

    Miniatürk adalah taman miniatur terbuka di tepi Tanduk Emas, Istanbul, menampilkan 135–139 model monumen penting Turki dengan skala 1:25. Dibuka pada 2003, luasnya 60.000 meter persegi dan efektif sebagai pengenalan cepat sejarah dan arsitektur Turki.

  • Pierre Loti Hill & Café

    Berdiri 55 meter di atas Golden Horn di distrik Eyüpsultan, Pierre Loti Hill adalah tempat langka yang memadukan sejarah, sastra, dan panorama terbaik Istanbul. Naik kereta gantung atau berjalan kaki melewati pemakaman berusia ratusan tahun menuju kedai teh yang dikenal setelah sering dikunjungi novelis Prancis pada akhir 1870-an.

  • Museum Rahmi M. Koç

    Museum Rahmi M. Koç menempati bekas pabrik jangkar abad ke-12 dan galangan kapal bersejarah di tepi utara Golden Horn. Inilah museum besar pertama di Turki yang mengulas sejarah transportasi, industri, dan komunikasi. Koleksinya seluas 27.000 m²—dari lokomotif dan kapal selam hingga mobil klasik dan instrumen ilmiah—siap dieksplorasi berjam-jam.